Pengabdian Tim Universitas Negeri Yogyakarta Berhasil Mengembangkan Bioabsorben Belimbing Wuluh untuk Mengurangi Emisi Amonia pada Peternakan Ayam di Kalurahan Ngentakrejo, Kabupaten Kulon Progo

Yogyakarta, 21 April 2026 - Inovasi ramah lingkungan berhasil dilakukan oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dipimpin oleh Dr. Laila Katriani, S.Si., M.Si. bersama tim dari Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY, berhasil mengembangkan bioabsorben berbasis belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) yang berpotensi digunakan untuk mengurangi emisi gas amonia pada limbah peternakan ayam. Kegiatan dilaksanakan di Kalurahan Ngentakrejo, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulon Progo, yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai peternak ayam.

Gas amonia merupakan salah satu pencemar udara yang umum ditemukan pada lingkungan peternakan ayam. Konsentrasi amonia yang tinggi dapat menimbulkan bau tidak sedap, menurunkan kualitas udara, serta berdampak terhadap kesehatan ternak dan lingkungan sekitar. Berangkat dari permasalahan tersebut, tim pengabdian memanfaatkan belimbing wuluh sebagai bahan alami yang memiliki kandungan senyawa aktif untuk dikembangkan menjadi bioabsorben. Dalam kegiatan ini, ekstrak belimbing wuluh diolah hingga menjadi bioabsorben berbentuk granul. Karakterisasi dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa bioabsorben mengandung gugus fungsi aktif yang dspst berinteraksi dengan gas amonia sehingga mampu membantu proses penyerapan gas tersebut. Pengujian dilakukan dalam dua tahap, yaitu skala laboratorium dan pengujian langsung pada kandang ayam milik mitra peternak. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa bioabsorben mampu menurunkan konsentrasi amonia secara bertahap dibandingkan perlakuan tanpa bioabsorben. Sementara itu, pada pengujian lapangan selama tujuh hari, bioabsorben berhasil menurunkan konsentrasi amonia hingga 91,3% pada salah satu titik pengamatan dan mencapai 0 ppm pada titik lainnya.

Menurut tim peneliti, kemampuan bioabsorben dalam menurunkan kadar amonia berasal dari interaksi antara gugus fungsi aktif pada belimbing wuluh dengan molekul amonia. Selain itu, bentuk granul yang digunakan mendukung terjadinya kontak yang lebih efektif antara bioabsorben dan gas amonia sehingga meningkatkan proses penyerapan.

"Kami berharap bioabsorben berbasis belimbing wuluh ini dapat menjadi alternatif ramah lingkungan dan ekonomis untuk membantu peternak mengurangi emisi amonia serta meningkatkan kualitas lingkungan kandang," ujar Dr. Laila Katriani, S.Si., M.Si., ketua tim pengabdian.

Hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa belimbing wuluh tidak hanya memiliki nilai sebagai tanaman pangan, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai material ramah lingkungan untuk mendukung pengelolaan limbah peternakan yang lebih berkelanjutan. Teknologi yang dikembangkan juga relatif sederhana sehingga berpotensi diterapkan secara luas pada peternakan skala kecil maupun menengah. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dana EQUITY Dalam Negeri Tahun 2025 - 2026 yang didukung oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Program tersebut bertujuan untuk mendorong hilirisasi hasil penelitian dan implementasi teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui inovasi ini, Universitas Negeri Yogyakarta terus mendorong lahirnya penelitian dan pengabdian yang memberikan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).