Belajar, Berkarya, dan Melestarikan Budaya Batik melalui Ekstrakurikuler di SMA Negeri 2 Banguntapan

Kegiatan ekstrakurikuler batik menjadi salah satu kegiatan yang diikuti oleh Yuliani Hidayah, mahasiswa Pendidikan Fisika Universitas Negeri Yogyakarta, selama pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMA Negeri 2 Banguntapan tahun ajaran 2026/2027. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan SMA Negeri 2 Banguntapan dan diikuti oleh siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler batik. Pelaksanaan kegiatan didampingi oleh guru pendamping ekstrakurikuler dan mahasiswa PK. Dalam kegiatan tersebut, siswa mendapatkan kesempatan untuk mengenal dan mempraktikkan keterampilan membatik secara langsung. Kegiatan ekstrakurikuler batik mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas dan SDG 11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan melalui pengembangan keterampilan siswa dan upaya pelestarian budaya Indonesia.

Dalam pelaksanaannya, siswa mengikuti arahan dari guru pendamping dan terlibat langsung dalam proses membatik. Mahasiswa PK turut mendampingi siswa selama kegiatan berlangsung. Setiap tahapan dilakukan dengan mengikuti arahan yang diberikan oleh guru pendamping. Menurut guru pendamping ekstrakurikuler batik, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk menjaga tradisi batik agar tetap dikenal oleh siswa. “Supaya mengembangkan tradisi dan kesenian tidak hilang, supaya anak-anak tahu bagaimana cara membatik,” ujar guru pendamping ekstrakurikuler batik. Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat mengenal batik lebih dekat melalui pengalaman membuatnya secara langsung.

Bagi siswa yang mengikuti kegiatan ini, batik menjadi ruang untuk mengembangkan minat dan kreativitas melalui kegiatan yang mereka sukai. Salah satu siswa menyampaikan ketertarikannya terhadap seni dan keinginannya untuk mempelajari batik tulis. “Tertarik dengan seni, mau belajar batik tulis juga, soalnya batik tulis sudah mulai langka dan jarang, kan sudah banyak batik tempel,” ungkap salah satu siswa peserta ekstrakurikuler batik. Siswa lainnya mengatakan bahwa dirinya tertarik mengikuti kegiatan batik karena memiliki kegemaran menggambar. “Alasan aku ikut batik itu karena aku suka gambar, terus batik itu salah satu cara aku buat nenangin stres,” ujar siswa tersebut. Dari cerita kedua siswa tersebut, terlihat bahwa kegiatan batik tidak hanya menjadi tempat untuk belajar membuat karya, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa untuk menyalurkan minat dan menikmati proses berkarya. Kegiatan ini mendukung SDG 4 karena memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan melalui kegiatan praktik. Kegiatan ini juga mendukung SDG 11 melalui pengenalan dan pelestarian budaya batik kepada generasi muda.

Kegiatan ekstrakurikuler batik diharapkan dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan di SMA Negeri 2 Banguntapan. Siswa diharapkan dapat meningkatkan keterampilan membatik dan memiliki rasa peduli terhadap budaya Indonesia. Sekolah juga diharapkan dapat terus memberikan ruang bagi siswa untuk mengenal dan mengembangkan budaya melalui kegiatan ekstrakurikuler. Bagi Yuliani Hidayah sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika, keterlibatan dalam kegiatan ini memberikan pengalaman bahwa pendidikan dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan di sekolah. Kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman dalam mengenalkan budaya kepada generasi muda dan mendukung upaya pelestarian budaya Indonesia.